Probolinggo,r-semeru.com | Politik sejatinya bukan sekadar perebutan jabatan dan kekuasaan. Lebih dari itu, politik merupakan ruang pengabdian yang dapat membawa kemaslahatan bagi masyarakat. Namun, ketika kehilangan nilai moral, politik justru berpotensi menjadi sumber ketidakadilan dan kerusakan.
Pandangan tersebut menjadi salah satu pokok pemikiran Lora Muhammad Alfayyadl dari Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, yang menguraikan lima tingkatan dalam berpolitik, Jumat (30/10/2026).
Menurutnya, kualitas politik tidak semata-mata diukur dari besarnya kekuasaan atau tingginya jabatan yang dimiliki seseorang. Hal terpenting adalah bagaimana kekuasaan itu digunakan dan sejauh mana manfaatnya dirasakan masyarakat.
Dalam perspektif moral dan pengabdian, terdapat lima tingkatan politik yang dapat menjadi bahan refleksi bersama.
1. Politik sebagai Amanah KekhalifahanTingkatan pertama sekaligus yang tertinggi adalah politik sebagai amanah kekhalifahan.
Pada level ini, kekuasaan dipandang sebagai tanggung jawab untuk menjaga kehidupan dan menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh makhluk. Politik tidak digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi menjadi jalan pengabdian dalam menegakkan keadilan, melindungi kelompok lemah, serta menciptakan kedamaian.
Kekuasaan bukan sekadar alat untuk memerintah, melainkan amanah untuk melayani, melindungi, dan mengayomi masyarakat.
2. Politik sebagai IbadahTingkatan kedua adalah politik sebagai bagian dari ibadah.Politik dijalankan dengan niat mencari rida Allah SWT. Jabatan dan kekuasaan menjadi sarana untuk melakukan kebaikan, membantu sesama, serta memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Dalam pandangan ini, politik bukan hanya urusan duniawi. Setiap keputusan dan kebijakan memiliki konsekuensi moral sekaligus pertanggungjawaban spiritual.Semakin besar kekuasaan yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang harus ditunaikan.
3. Politik sebagai Kebahagiaan (Politics of Happiness)
Pada tingkatan ketiga, politik diarahkan untuk menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat.Keberhasilan politik tidak cukup diukur dari kemenangan dalam kontestasi atau kemampuan mempertahankan kekuasaan. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana kebijakan dan tindakan politik mampu meningkatkan kesejahteraan serta menciptakan kehidupan sosial yang harmonis.
Politik seharusnya menjadi ruang membangun persahabatan, memperkuat hubungan kemanusiaan, dan menghindari permusuhan.Gagasan ini juga dikaitkan dengan pemikiran Derrida tentang persahabatan, bahwa politik semestinya menjadi sarana membangun hubungan antarmanusia, bukan justru memperlebar perpecahan.
4. Politik sebagai Kepentingan (Politics of Interest)Berbeda dengan tiga tingkatan sebelumnya, pada level keempat politik mulai berorientasi pada kepentingan dan keuntungan.
Kalkulasi untung-rugi, kepentingan pribadi, maupun kelompok menjadi pertimbangan utama dalam menentukan sikap dan langkah politik.
Pada tahap ini, kekuasaan cenderung dipandang sebagai instrumen untuk mencapai tujuan tertentu. Kepentingan masyarakat luas berpotensi tersisih oleh kepentingan golongan.Meski kepentingan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari praktik politik, persoalan muncul ketika kepentingan tersebut mengabaikan keadilan dan kemaslahatan bersama.5.
Politik sebagai Kejahatan (Politics as Evil)
Inilah tingkatan politik paling rendah sekaligus paling berbahaya.
Pada level ini, politik tidak lagi menjadi sarana pengabdian, tetapi berubah menjadi alat untuk merugikan, menindas, bahkan menyakiti orang lain.
Berbagai cara ditempuh demi meraih kekuasaan, mulai dari kebohongan, manipulasi, fitnah, hingga adu domba. Nilai moral dan kemanusiaan dikorbankan demi kepentingan pribadi maupun kelompok.
Politik yang semestinya menjadi jalan memperbaiki kehidupan justru berubah menjadi sumber kerusakan dan penderitaan.
Politik Indonesia Butuh Kesadaran Moral
JJika lima tingkatan tersebut dijadikan bahan refleksi, praktik politik di Indonesia masih menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Orientasi politik yang lebih mengutamakan kepentingan dan perebutan kekuasaan masih menjadi fenomena yang perlu mendapat perhatian serius. Dalam perspektif ini, praktik politik pada tingkatan keempat dan kelima masih menjadi persoalan yang patut dikritisi.
Sementara itu, politik yang berlandaskan ibadah, kebahagiaan masyarakat, dan amanah kekhalifahan membutuhkan komitmen serta perjuangan yang lebih kuat.Meski demikian, bukan berarti seluruh pelaku politik berada pada level yang sama. Masih banyak individu yang berusaha menjadikan politik sebagai ruang pengabdian dan perjuangan untuk kepentingan masyarakat.
Karena itu, membangun politik yang bermartabat bukan hanya tanggung jawab para elite, tetapi juga membutuhkan kesadaran seluruh elemen masyarakat.
Mengembalikan Politik pada Hakikat PengabdianLima tingkatan politik tersebut memberikan pesan penting bahwa persoalan politik bukan semata-mata tentang siapa yang berkuasa, melainkan untuk apa kekuasaan itu digunakan.
Politik yang bermartabat adalah politik yang menghadirkan keadilan, menjaga kedamaian, membahagiakan masyarakat, serta memberikan perlindungan kepada mereka yang membutuhkan.
Sebab, kekuasaan bukanlah kehormatan untuk dibanggakan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.Pada akhirnya, kualitas seorang politisi tidak ditentukan oleh tingginya jabatan, banyaknya pendukung, ataupun besarnya pengaruh. Ukuran sesungguhnya terletak pada manfaat yang diberikan dan komitmennya menjaga nilai-nilai kemanusiaan.Politik tanpa moralitas akan melahirkan keserakahan. Sebaliknya, politik yang berpijak pada amanah dan pengabdian akan menjadi jalan menuju kemaslahatan.
Kontributor: dyt

